Jumat, 09 November 2012

Praktikum kimia fisika "ISOTERM ADSORPSI"

NAMA        : PUJI RAHAYU
NIM        : 4301410026
PODI        : Pendidikan Kimia
KELOMPOK    : 5
TANGGAL    : 19 September 2012
DOSEN    : Ir. SRI WAHYUNI M.Si

1.    TUJUAN
Menentukan isoterm adsorbsi menurut Freundlinch bagi proses adsorbsi asam klorida atau asam klorida arang.

2.    LATAR BELAKANG TEORI
Adsorbsi secara umum adalah proses penggumpalan subtansi terlarut (soluble) yang ada dalam larutan, oleh permukaan zat atau benda penyerap, dimana terjadi suatu ikatan kimia fisika antara subtansi dengan penyerapannya. Adsorbsi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ;
1.    Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu proses bolak – balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorbsi pada permukaan adsorben.
2.    Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang teradsorbsi.
Adsorbsi menggunakan istilah adsorbant dan adsorbent, dimana adsorbent adalah merupakan suatu penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon, sedangkan adsorbant adalah merupakan suatu media yang diserap. Pada air buangan proses adsorbsi adalah merupakan gabungan antara adsorbsi secara fisika dan kimia yang sulit dibedakan, namun tidak akan mempengaruhi analisa pada proses adsorbsi. Absorbsi adalah proses adhesi yang terjadi pada permukaan suatu zat padat atau cair yang berkontak dengan media lainnya, sehingga menghasilkan akumulasi atau bertambahnya konsentrasi molekul – molekul. (Soedarsono dan Benny Syahputra, 2005).

Adsorbsi adalah gejala pengumpulan molekul-molekul suatu zat pada permukaan zat lain, sebagai akibat dari ketidakjenuhan gaya-gaya pada permukaaan zat tersebut. Proses adsorpsi dalam larutan, jumlah zat teradsorpsi tergantung pada beberapa faktor, yaitu :
a. Jenis adsorben
b.Jenis adsorbat
c. Luas permukaan adsorben
d. Konsentrasi zat terlarut
e. Temperatur
        Karbon aktif dapat dibuat dari bahan yang mengandung karbon dalam jumlah cukup tinggi. Salah satu bahan baku karbon aktif yang potensial adalah tempurung kelapa. Pemanfaatannya sebagai bahan baku karbon aktif selain karena harganya yang murah juga karena dapat mengurangi limbah pertanian. Penggunaan karbon aktif di Indonesia mulai berkembang dengan pesat, yang dimulai dari pemanfaatannya sebagai adsorben untuk pemurnian pulp, air, minyak, gas, dan katalis. Namun, mutu karbon aktif domestik masih rendah (Harfi & Kusuman1994), dengan demikian perlu ada peningkatan mutu karbon  aktif tersebut. Karbon aktif dapat dijadikan sebagai zat pengadsorbsi atau adsorben.
Arang adalah padatan berpori hasil pembakaran bahan yang mengandung karbon. Arang tersusun dari atom-atom karbon yng berikatan secara kovalen membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya(Gambar 1). Susunan kisi-kisi heksagonal datar ini tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar yang saling bertumpuk dengan sela-sela di antaranya.

Gambar 1 Struktur grafit karbon aktif
Sebagian pori-pori yang terdapat dalam arang masih tertutup oleh hidrokarbon dan senyawa organik lainnya. Komponen arang ini meliputi karbon terikat, abu, air, nitrogen, dan sulfur (Djatmiko et al. 1985 dalam Januar Ferry 2002). yang mempunyai luas permukaan dan jumlah pori sangat banyak (Baker 1997).
 Manes (1998) mengatakan bahwa karbon aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah diaktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya. Karbon aktif berbentuk kristal mikro karbon grafit yang pori-porinya telah mengalami pengembangan kemampuan untuk mengadsorpsi gas dan uap dari campuran gas dan zat-zat yang tidak larut atau yang terdispersi dalam cairan (Roy 1985). Luas permukaan, dimensi, dan distribusi karbon aktif bergantung pada bahan baku, pengarangan, dan proses aktivasi. Berdasarkan ukuran porinya, ukuran pori karbon aktif diklasifikasikan menjadi 3, yaitu mikropori (diameter <2 nm), mesopori (diameter 2–50 nm), dan makropori (diameter >50 nm) (Baker 1997).
Setyaningsih (1995) membedakan karbon aktif menjadi 2 berdasarkan fungsinya, yaitu Karbon adsorben gas (gas adsorbent carbon): Jenis arang ini digunakan untuk mengadsorpsi kotoran berupa gas. Pori-pori yang terdapat pada karbon aktif jenis ini tergolong mikropori yang menyebabkan molekul gas akan mampu melewatinya, tetapi molekul dari cairan tidak bisa melewatinya. Karbon aktif jenis ini dapat ditemui pada karbon tempurung kelapa. Selanjutnya adalah karbon fasa cair (liquid-phase carbon). Karbon aktif jenis ini digunakan untuk mengadsorpai kotoran atau zat yang tidak diinginkan dari cairan atau larutan. Jenis pori-pori dari karbon aktif ini adalah makropori yang memungkinkan molekul berukuran besar untuk masuk. Karbon jenis ini biasanya berasal dari batu bara, misalnya ampas tebu dan sekam padi.
Aktivasi adalah perubahan fisik berupa peningkatan luas permukaan karbon aktif dengan penghilangan hidrokarbon. Ada dua macam aktifasi, yaitu aktivasi fisika dan kimia. Aktivasi kimia dilakukan dengan merendam karbon dalam H3PO4, ZnCl2, NH4Cl, dan AlCl3 sedangkan aktivasi fisika menggunakan gas pengoksidasi seperti udara, uap air atau CO2.
    Bagi suatu sistem adsorbsi tertentu, hubungan antara banyaknya zat yang teradsorpsi persatuan luas atau persatuan berat adsorben dengan konsentrasi yang teradsorpsi pada temperatur tertentu disebut dengan isoterm adsorbsi ini dinyatakan sebagai:
    x/m= k. Cn .........................................................................................................(1)
dalam hal ini :
    x = jumlah zat teradsorbsi (gram)
    m = jumlah adsorben (gram)
    C = konsentrasi zat terlarut dalam larutan, setelah tercapai kesetimbangan adsorpsi
 k dan n = tetapan, maka persamaan (1) menjadi :

    log x/m = log k + n log c................................................................................(2)
persamaan ini mengungkapkan bahwa bila suatu proses adsorbsi menuruti isoterm Freundlich, maka aluran log x/m terhadap log C akan merupakan garis lurus. Dari garis dapat dievaluasi tetapan k dan n (Tim Labor Kimia Fisika,2011).
    Isoterm adsorbsi adalah hubungan yang menunjukkan distribusi adsorben antara fase teradsorbsi pada permukaan adsorben dengan fase ruah kesetimbangan pada temperatur tertentu. Ada tiga jenis hubungan matematik yang umumnya digunakan untuk menjelaskan isoterm adsorbsi (anonim,2008).

1. Isoterm Langmuir
Isoterm ini berdasar asumsi bahwa :
a. Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanyadapat mengadsorbsi satu molekul untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara molekul-molekul yang terserap.
b. Semua proses adsorbsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.
c. Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorbsi maksimum.
    Namun, biasanya asumsi-asumsi sulit diterapkan karena hal-hal berikut : selalu ada ketidaksempurnaan pada permukaan, molekul teradsorbsi tidak inert dan mekanisme adsorbsi pada molekul pertama asangat berbeda dengan mekanisme pada molekul terakhir yang teradsorpsi.
    Langmuir mengemukakan bahwa mekanisme adsorpsi yang terjadi adalah sebagai berikut : A(g) + S  ↔  AS, dimana A adalah molekul gas dan s adalah permukaan adsorpsi (anonim,2008).
    Salah satu kelemahan dari isoterm Freundlich adalah bahwa ia gagal pada tekanan tiggi gas. Irving langmuir pada 1916 berasal isoterm adsorbsi sederhana pada pertimbangan teoritis berdasarkan teori kinetika gas. Ini disebut sebagai adsorpsi isoterm Langmuir (anonim,2010).

2. Isoterm Branauer, Emmet and Teller (BET)
    Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai nilai permukaan yang homogen. Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat dipermukaannya. Pada isoterm ini, mekanisme adsopsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda. Mekanisme yang diajukan dalam isoterm ini adalah :
Isoterm Langmuir biasanya lebih baik apabila diterapkan untuk adsorpsi kimia, sedangkan isoterm BET akan lebih baik daripada isoterm Langmuir bila diterapkan untuk adsorpsi fisik (anonim,2008).

3. Isoterm Freundlich
    Untuk rentang konsentrasi yang kecil dan campuran yang cair, isoterm adsorpsi dapat digambarkan dengan persamaan empirik yang dikemukakan oleh Freundlich. Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda. Persamaan ini merupakan persamaan yang paling banyak digunakan saat ini. Persamaannya adalah :

            x/m = k C 1/n
dimana:
x = banyaknya zat terlarut yng teradsorpsi (mg)
m = massa adsorben (mg)
C = konsentrasi adsorben yang sama
k,n = konstanta adsorben
    Dari persamaan tersebut, jika konsentrasi larutan dalam kesetimbangan diplot sebagai ordinat dan konsentrasi adsorbat dalam adsorben sebagai absis pada koordinat logaritmik, akan diperoleh gradien n dan intersept. Dari isoterm ini, akan diketahui kapasitas adsorben dalam menyerap air. Isoterm ini akan digunakan dalam penelitian yang akan dilakukan, karena dengan isoterm ini dapat ditentukan efisisensi dari suatu adsorben (anonim,2008).












3. ALAT DAN BAHAN
a. Alat-alat yang digunakan:
No.    Nama Alat    Jumlah
1    Cawan porselin                 1 buah   
2    Labu erlenmeyer bertutup 250mL        12 buah
3    Labu erlenmeyer 150 ml            6 buah
4    Pipet 5 ml    1 buah
5    Pipet 10 ml                    1 buah
6    Pipet 25 ml                    1 buah
7    Buret 50 ml                    1 buah
8    Corong                    2 buah
9    Pengaduk                    1 buah
10    Spatula                     1 buah
11    Neraca analitik                1 buah
12    Kertas saring                    6 buah
13    Statif                        1 buah
14    Stopwatch                    1 buah
15    Pembakar spirtus                1 buah
16    Kaki tiga                    1 buah

b. Bahan-bahan yang digunakan:
1. Asam klorida (HCl) 0,5 N
2. Adsorben arang atau karbon
3. Lar. Standar Natrium Hidroksida (NaOH) 0,1 N
4. Indikator Phenolptalin (pp)











4. CARA KERJA
   


































5. HASIL PENGAMATAN
    Table pengamatan 1
Konsentrasi
HCl    Awal    Akhir
(dengan penambahan arang)
    HCl
(ml)    NaOH 0,1 N
(ml)    HCl
(ml)    NaOH 0,1 N
(ml)
0,5 N    5    24,5    24    10    32,8    31,8
0,25 N    5    11,5    11,2    10    12,8    12,4
0,125 N    5    6,1    6    10    8,8    9,4
0,0625 N    5    3,1    3,1    25    13,5    12,7
0,0313 N    5    1,6    1,5    25    6,5    6,3

     Tabel pengamatan 2 :
No    Massa
(gram)    Konsentrasi asam (N)    X
(gram)    X/m    Log x/m    Log  C
        Awal    Sisa    ∆C               
1    1,0022    0,485    0,319    0,166    0,6053    0,6040    -0,2190    -0,7799
2    1,0018    0,227    0,126    0,101    0,3683    0,3676    -0,4346    -0,9957
3    1,0014    0,121    0,091    0,03    0,1094    0,1092    -0,9618    -1,5229
4    1,0012    0,062    0,0594    0,0096    0,0350    0,0349    -1,4572    -2,0178
5    1,0011    0,031    0,0256    0,0054    0,0196    0,0195    -1,7100    -2,2676






6. PEMBAHASAN
    Adsorbsi adalah pengumpulan zat terlarut dipermukaan media dan merupakan jenis adhesi yang terjadi pada zat padat atau cair yang kontak dengan zat-zat lainnya.
Percobaan yang dilakuakan pada bab isotherm adsorpsi arang aktif adalah dengan menggunakan larutan organic yaitu HCl dengan variasi 5 konsentrasi. Adsorben yang digunakan adalah arang yang telah diaktifkan sebelumnya. Pengaktifan arang dapat dilakukan dengan beberapa cara.
 Pada percobaan ini pengaktifan arang dilakukan dengan cara pemanasan menggunakan suhu yang tinggi, hal ini dilakukan karena percobaan ini mengadsorbsi larutan organic (asam klorida) sehingga pengaktifan dilakukan dengan suhu tinggi dan tidak sampai membara. Perlakuan ini dimaksudkan supaya arang tidak menjadi abu, dimana jika telah menjadi abu, arang tersebut tidak dapat lagi untuk menjadi absorben. Tujuan dari pemanasan ini adalah untuk membuka pori-pori permukaan dari arang agar mampu mengabsorpsi secara maksimal (mengabsorpsi asam klorida).
Arang yang telah aktif digunakan untuk mengadsorpsi asam klorida dengan variasi konsentrasi yaitu, 0,485 N; 0,227 N; 0,121 N; 0,062 N; 0,031 N diperoleh dari hasil  titrasi dengan NaOH 0,1 N, asam klorida yang dititrasi berasal  dari  sisa asam yang digunakan pada percobaan.
Langkah pertama, memasukkan 1 gram arang aktif kedalam Erlenmeyer dan menambahkan asam klorida  dengan konsentrasi yang ada sebanyak 100 ml kemudian tutup Erlenmeyer dan diamkan selama 30 menit dengan perlakuan pengocokan setiap 10 menit dengan rentang 1 menit dan temperature tetap dijaga konstan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan adsorben dalam mengadsorpsi adsorbat.  Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan arang untuk mengabsorpi larutan asam klorida dalam berbagai konsentrasi pada suhu konstan (isoterm).
Setelah 30 menit, larutan disaring dengan kertas saring. Selanjutnya, titrasi asam klorida hasil adsorpsi dengan indicator PP dan larutan NaOH  0, 1 N sebagai titran.
Dimana asam klorida mendapat dua perlakuan, yakni titrasi asam klorida awal dan titrasi asam klorida akhir (setelah penambahan arang). Dalam titrasi asam klorida akhir ini diambil 10 ml dari tiga konsentrasi asam klorida tertinggi, selanjutnya diambil 25ml.
Pada percobaan ini akan ditentukan harga tetapan-tetapan adsorbsi isoterm Freundlich bagi proses adsorpsi ASAM KLORIDA terhadap arang. Variabel yang terukur pada percobaan adalah volume larutan NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menitrasi ASAM KLORIDA. Setelah konsentrasi awal dan akhir diketahui, konsentrasi ASAM KLORIDA yang teradsorbsi dapat diketahui dengan cara pengurangan konsentrasi awal dengan konsentrasi akhir. Selanjutnya dapat dicari berat ASAM KLORIDA yang teradsorbsi.
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan, konsentrasi asam klorida sebelum adsorpsi lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam klorida telah diadsorpsi oleh arang aktif. Dari data juga dibuat suatu grafik dimana x/m diplotkan sebagai ordinat dan C sebagai absis.
            Adsorpsi karbon membuat konsentrasi asam klorida mengalami penurunan. Pada data diatas penyerapan tiap percobaan terjadi ketidaksamaan antara data 1 sampai 5 dapat dilihat dari X gram ( jumlah zat yang teradsorpsi) kurang stabil.  Hal ini terjadi karena dalam adsorpsi terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi hasil adsorpsi.
Menurut M.T. Sembiring dkk, 2003 bahwa karbon aktif yang baik mempunyai persyaratan seperti yang tercantum pada SII No.0258 -79. Sifat karbon aktif yang paling penting adalah daya serap. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya serap adsorpsi, yaitu :
1.      Sifat Serapan
Banyak senyawa yang dapat diadsorpsi oleh karbon aktif, tetapi kemampuannya untuk mengadsorpsi berbeda untuk masing- masing senyawa. Adsorpsi akan bertambah besar sesuai dengan bertambahnya ukuran molekul serapan dari sturktur yang sama, seperti dalam deret homolog. Adsorbsi juga dipengaruhi oleh gugus fungsi, posisi gugus fungsi, ikatan rangkap, struktur rantai dari senyawa serapan.
2.      Temperatur/ suhu.
Dalam pemakaian karbon aktif dianjurkan untuk menyelidiki suhu pada saat berlangsungnya proses. Karena tidak ada peraturan umum yang bisa diberikan mengenai suhu yang digunakan dalam adsorpsi. Faktor yang mempengaruhi suhu proses adsoprsi adalah viskositas dan stabilitas thermal senyawa serapan. Jika pemanasan tidak mempengaruhi sifat-sifat senyawa serapan, seperti terjadi perubahan warna mau dekomposisi, maka perlakuan dilakukan pada titik didihnya. Untuk senyawa volatil, adsorpsi dilakukan pada suhu kamar atau bila memungkinkan pada suhu yang lebih kecil.
3.      pH (Derajat Keasaman).
Untuk asam-asam organik, adsorpsi akan meningkat bila pH diturunkan, yaitu dengan penambahan asam-asam mineral. Ini disebabkan karena kemampuan asam mineral untuk mengurangi ionisasi asam organik tersebut. Sebaliknya bila pH asam organik dinaikkan yaitu dengan menambahkan alkali, adsorpsi akan berkurang sebagai akibat terbentuknya garam.
4.      Waktu Singgung
Bila karbon aktif ditambahkan dalam suatu cairan, dibutuhkan waktu untuk mencapai kesetimbangan. Waktu yang dibutuhkan berbanding terbalik dengan jumlah arang yang digunakan. Selisih ditentukan oleh dosis karbon aktif, pengadukan juga mempengaruhi waktu singgung. Pengadukan dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada partikel karbon aktif untuk bersinggungan dengan senyawa serapan. Untuk larutan yang mempunyai viskositas tinggi, dibutuhkan waktu singgung yang lebih lama.

7. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
1. Dalam pengenceran semakin besar konsentrasi yang diinginkan semakin besar pula volume yang diperlukan untuk pengenceran.
2. Warna yang dihasilkan pada proses titrasi adalah pink muda.
3. Titrasi menggunakan larutan standar NaOH 0,1 N dengan indikator pp
4. Arang dapat berfungsi sebagai adsorbsi.
5. Konsentrasi asam klorida sebelum adsorpsi lebih tinggi daripada setelah adsorpsi. Hal ini karena asam klorida telah diadsorpsi oleh arang aktif.

Saran :
1.    Lebih teliti dalam melakukan segala hal praktikum.
2.    Mempelajari cara kerja dan landasan teori sebelum praktikum agar tidak terjadi kesalahan selama praktikum.
3.    Jangan lupa menggunakan indikator PP, sehingga tidak terjadi kesalahan titrasi karena lupa menggunakan indikator PP.
4.    Penggunaan alat yang terbatas dan alat yang tidak valid membuat percobaan kurang efisien.
5.    Membuat rancangan pembagian tugas pada kelompok, sehingga waktu termanfaatkan dengan baik dan benar.

8. DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2011. http://berburudggema.blogspot.com/ (diakses pada tgl 22 september 2012).

Anonym. 2011. http://cheminiezt.blogspot.com/2011/12/isoterm-adsorpsi-karbon-aktif.html (diakses pada tgl 22 september 2012).

Anonim. 2008. http://smk3ae.wordpress.com (diakses pada tanggal 23 maret 2012)

Puspitasari,Dyah Pratama. 2006 ”Adsorpsi Surfaktan Anionik Pada Berbagai pH Menggunakan Karbon Aktif Termodifikasi Zink Klorida” dalam Jurnal Kimia,Departeman Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam: Institut Pertanian Bogor.

Tim Dosen Kimia Fisika. 2012. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang: FMIPA UNNES.

Mengetahui,                                                          Semarang, 25 September 2012
Dosen Pengampu                                                  Praktikan,


Ir. Sri Wahyuni, M.Si                                               PUJI RAHAYU
NIP.                                                                          NIM. 4301410026
9. PERTANYAAN DAN JAWABAN
1.      Apakah proses adsorpsi ini merupakan adsorpsi fisik atau khemisorpsi?
Pada percobaan ini proses adsorpsi terjadi secara adsorpsi fisik yang memiliki cirri molekul yang terikat pada adsorben oleh gaya Van Der Walls, mempunyai entalpi reaksi dan bersifat tidak spesifik
2.      Apakah perbedan antara kedua jenis adsorpsi ini? Berikan contoh dari kedua jenis adsorpsi ini!
a.       Adsorbsi fisik, yaitu berhubungan dengan gaya Van der Waals dan merupakan suatu proses bolak – balik apabila daya tarik menarik antara zat terlarut dan adsorben lebih besar daya tarik menarik antara zat terlarut dengan pelarutnya maka zat yang terlarut akan diadsorbsi pada permukaan adsorben, tidak melibatkan energy aktivasi.
b.      Adsorbsi kimia, yaitu reaksi yang terjadi antara zat padat dan zat terlarut yang teradsorbsi, terjadi pemutusan dan pembentukan ikatan kimia, panas adsorbsinya tinggi, melibatkan energy aktivasi.
Ex: adsorpsi SDBS
•         Adsorsi fisik : adsorpsi nitrogen pada besi secara fisik nitrogen cair pada -190 0 C akan teradsorpsi pada besi
•         Adsorpsi kimia: pada suhu 500 0 C nitrogen teradsorpsi cepat pada permukaan besi.
3.      Apakah perbedaan yang terjadi pada pengaktifan arang dengan cara pemanasan?
Pengaktifan arang dengan cara pemanasan :
a.       L-karbon (L-AC) yaitu karbon aktif yang dibuat dengan oksidasi pada suhu 300oC – 400oC (570o-750oF) dengan menggunakan udara atau oksidasi kimia. L-AC sangat cocok dalam mengadsorbsi ion terlarut dari logam berat basa seperti Pb2+, Cu2+, Cd2+, Hg2+. Karakter permukaannya yang bersifat asam akan berinteraksi dengan logam basa. Regenerasi dari L-AC dapat dilakukan menggunakan asam atau garam seperti NaCl hampir sama pada perlakuan pertukaran ion.
b.      H-karbon (H-AC) yaitu karbon aktif yang dihasilkan dari proses pemasakan pada suhu 800o-1000oC (1470o-1830oF) kemudian didinginkan pada atmosphere inersial. H-AC memiliki permukaan yang bersifat basa sehingga tidak efektif dalam mengadsorbsi logam berat alkali pada suatu larutan air tetapi sangat lebih effisien dalam mengadsorbsi kimia organik, partikulat hidrofobik, dan senyawa kimia yang mempunyai kelarutan yang rendah dalam air. Akan tetapi H-AC dapat dimodifikasi dengan menaikan angka asiditas. Permukaan yang netral akan mengakibatkan tidak efektifnya dalam mereduksi dan mengadsorbsi kimia organik sehingga efektif mengadsorbsi ion logam berat dengan kompleks khelat zat organik alami maupun sintetik dengan menetralkannya.
4.      Bagaimana isotherm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat? Apa pembatasannya?
Isotherm Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang baik atau memuaskan. Hal ini terjadi karaena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen. Gas merupakan campuran yang homogeny sehingga kurang cocok jika digunakan dalam isotherm Freundlich.
Batasannya : adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen.
5.      Mengapa isotherm adsorpsi Freundlich untuk adsorpsi gas pada permukaan zat padat kurang memuaskan dibandingkan dengan isotherm adsorpsi Langmuir?
Bagaimana bentuk isotherm adsorpsi yang berakhir ini? 
Karena pada adsorpsi Freundlich situs-situs aktif pada permukaan adsorben bersifat heterogen, sedangkan adsorpsi pada Langmuir bersifat homogen. Ketika mengadsorpsi gas yang wujudnya campuran yang homogeny, maka adsorpsi Freundlich kurang cocok. Dari percobaan yang telah dilakukan, adsorpsi ini berbentuk adsorpsi Langmuir.













10. LAMPIRAN

No    Massa
(gram)    Konsentrasi asam (N)    X
(gram)    X/m    Log x/m    Log  C
        Awal    Sisa    ∆C               
1    1,0022    0,485    0,319    0,166    0,6053    0,6040    -0,2190    -0,7799
2    1,0018    0,227    0,126    0,101    0,3683    0,3676    -0,4346    -0,9957
3    1,0014    0,121    0,091    0,03    0,1094    0,1092    -0,9618    -1,5229
4    1,0012    0,062    0,0594    0,0096    0,0350    0,0349    -1,4572    -2,0178
5    1,0011    0,031    0,0256    0,0054    0,0196    0,0195    -1,7100    -2,2676

Data Pengamatan dan Perhitungan
Diketahui [NaOH] = 0,1 N
Asam klorida (HCl) yang diadsorpsi = 100 mL
Konsentrasi awal    Konsentrasi akhir
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 5 = 0,1 . 24,25
N1 = 0,485    N1 . V1=N2 . V2
N1 . 10 = 0,1 . 31,9
N1 = 0,319
N1 . V1 = V2 . V2
N1 . 5 = 0,1 . 11,35
N1 = 0,227    N1 . V1=N2 . V2
N1 . 10 = 0,1 . 12,6
N1 = 0,126
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 5 = 0,1 . 6,05
N1 = 0,121    N1 . V1=N2 . V2
N1 . 10 = 0,1 . 9,1
N1 = 0,091
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 5 = 0,1 . 3,1
N1 = 0,062    N1 . V1=N2 . V2
N1 . 25 = 0,1 . 13,1
N1 = 0,0594
N1 . V1 = N2 . V2
N1 . 5 = 0,1 . 1,5
N1 = 0,031    N1 . V1=M2 . V2
N1 . 25 = 0,1 . 6,4
N1 = 0,0256

Jumlah zat yang teradsorbsi (x)
1.    x1    = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,166 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,6053 gram
2.    x2    = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,101 x 36,4627  x 100 / 1000
= 0,3683 gram
3.    x3    = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,03 x 36,4627  x 100 / 1000
= 0,1094 gram
4.    x4    = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,0096 x 36,4627 x 100 / 1000
= 0,0095 gram
5.    x5    = (Cawal-Cakhir) x Mr x V / 1000
= 0,0054 x 36,4627  x 100 / 1000
= 0,0196 gram